MulutMarkesot acap dipinjam Cak Nun buat melancarkan kritik-kritik sosial. Sosoknya kerap misterius, namun di lain momen ia sekaligus cerdas, filosofis, serta sarat perenungan spiritual. Markesot dalam rekaan Cak Nun memang tak pernah menarik becak. Namun, "Markesot" di Bekasi yang kisahnya menanti Anda baca ini justru penarik becak EmhaAinun Nadjib alias Cak Nun blak-blakan mengungkapkan sosok yang berkuasa di Indonesia. Kalangan itu bukan Presiden Jokowi maupun bukan Megawati. Hal ini terekam dalam sebuah video yang tayang di kanal YouTube Saeful Zaman seperti dilihat pada Sabtu (14/8 /2021). NyinyirSinis di Foto Ahok BTP Disorot, Sifat Puput Nastiti Devi Dibongkar Eks Mertua Veronica Tan Istri Cak Nun Bilang Begini. Usai bercerai dengan Veronica Tan, Ahok terlihat dekat dengan polisi bernama Puput Nastiti Devi. Buya Yahya Terangkan Tentang Mandi Sunnah Jumat, Semakin Baik Pakai Minyak Wangi 9 jam lalu . JAKARTA Artis peran Denny Sumargo mengakui dirinya pernah menjadi kenek angkot ketika masih remaja.. Hal itu diakui Denny ketika menjadi bintang tamu dalam acara Talkshow yang dipandu oleh pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, seperti dikutip Kompas.com di kanal YouTtube TRANS 7 Official, Senin (3/8/2020).. Awalnya, Nagita Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd Nợ Xấu. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Kritik dalam sebuah negara demokratis itu wajib. Tanpa kritik, negara akan dikelola dengan ngawur. Dengan kritik, negara akan selalu diingatkan pada jalan yang seharusnya. Kritik beda dengan hinaan. Kritik dilandasi dengan landasan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Hinaan hanya lampiasan emosi belaka. Jangan jadi pejabat kalau tak mau dikritik. Karena pejabat akan menerapkan kebijakan. Dan setiap kebijakan akan multidampak. Jangan juga berharap kritik membangun seperti yang didengungkan oleh rezim Soeharto hanya untuk membungkam setiap kritik. Bangunlah dengan kritik bukan berharap pada kritik yang membangun. Jangan pula teriak teriak bahwa setiap kritik harus disertai solusi. Pejabat yang harus mencari solusi. Digaji besar memang untuk itu. Jangan pula menggerakkan buzzer untuk membunuh para pengkritik. Apalagi menggerakkan aparatur negara. Kalau seperti itu, sudah bukan negara demokratis lagi. Sudah menjadi otoriter. Cak Nun atau Emha Ainun Najib sudah saya kenal sejak masih kuliah. Kritiknya terhadap rezim Soeharto cukup pedas. Sehingga wajar, jika anak muda kuliahan banyak yang mengidolakan beliau. Tulisan tulisannya juga sangat kritis. Yang paling saya ingat adalah tulisan beliau yang selalu muncul di tabloid "Detik". Tabloid besutan Eros Jarot dan Gus Dur. Tabloid yang paling berani menayangkan tulisan tulisan yang berupa kritik terhadap rezim orba. Cak Nun masih kritis hingga hari ini. Kritik yang paling akhir terhadap Jokowi memunculkan hujatan dari para buzzer. Seolah olah Cak Nun hanya mengkritik Jokowi. Padahal, Gus Dur yang menjadi teman baiknya pun berkali-kali dikritisinya. Kritik Cak Nun adalah kritik dari salah satu anak bangsa yang peduli pada nasib bangsanya. Sebaiknya kritik itu dipergunakan untuk perbaikan dalam pengelolaan negara. Jangan sampai kritik dibungkam di negeri ini. Pembungkaman kritik berarti kematian untuk akal sehat. Lihat Politik Selengkapnya Selasa, 29 November 2016 WAJIB LIHAT!!! CAK NUN MENGUNGKAP FAKTA KEJADIAN DI BALIK DEMO AHOK !!! Diposting oleh Paulus hobeng di Tidak ada komentar Posting Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan Posting Komentar Atom Cak Nun menunjukkan kelasnya sebagai budayawan yang tidak takut bersuara. Ia tegas menyematkan 2 gelar buruk yang selama ini diperankan oleh Ahok dan membeberkan perannya dalam berbagai proyek siluman di negeri ini. Cak Nun ilustrasi-Harian Indo Budayawan kondang Emha Ainun Najib alias Cak Nun menunjukkan posisinya dalam gelaran Pilkada DKI Jakarta, Rabu, 15 Februari 2017 esok. Penulis buku Slilit Sang Kiai ini tegas menyematkan 2 gelar buruk untuk Basuki Tjahja Purnama alias Ahok dan mengungkap perannya dalam berbagai proyek yang menggerogoti bangsa Indonesia ini. Mulut Bensin "Nah, kalau pilih cagub, jangan yang mulutnya bensin," ujar Cak Nun yang disambut tawa para hadirin. Menurut Cak Nun, mulut bensin ini bisa mengakibatkan terbakarnya kedamaian dan kesantunan yang terjalin lama di bumi Nusantara ini. Cak Nun juga mengingatkan agar warga Jakarta mampu melalui ujian pemilihan cagub dan cawagub, sebab hal itu tak ubahnya check point saat seseorang hendak masuk ke SMA. Dengan tegas, Cak Nun juga menyematkan gelar gobl*k bagi warga DKI Jakarta yang salah pilih dengan mencoblos si mulut bensin. Dalam acara yang lain, Cak Nun menegaskan peran Ahok dalam berbagai proyek di DKI Jakarta. Ia menyebut, Ahok merupakan koordinator lapangan yang memilik bos-bos besar di belakangnya. "Ahok ini kan korlapnya," tegas Cak Nun, tanpa takut. Ia juga menjelaskan, pihak pengembang dan para bosa besar itu akan menanggung rugi ratusan bahkan ribuan triliun jika Ahok tidak terpilih sebagai Gubernur di DKI Jakarta. Dengan demikian, para pengembang dan bos besar mengerahkan seluruh kemampuan terbaik demi menangnya cagub yang resmi dinyatakan sebagai terdakwa dalam dugaan kasus penistaan agama ini. [Om Pir/Tarbawia]

komentar cak nun tentang ahok